DESIGN SISTEM PIPA PADA STRUKTUR BANGUNAN LAUT & KAPAL

29 03 2012

Kriteria Desain Pipa

Dalam mendesain sistem pipa pada struktur bangunan lat dan kapal . maka hal terpenting yang harus diperhatikan adalah tentang beberapa parameter – parameter tertentu . Parameter / kriteria  ini  harus diperhatikan . Karena sistem perpipaan ini mempunyai faktor yang sangat penting  dari  sederatan proses dari operasi pengeboran minyak di lepas pantai. Dengan berpedoman pada parameter tersebu maka akan diharapkan  sistem keamaanan / safety  dari operasi sistem bangunan laut dan kapal  itu akan sangat bergantung sekali pada susunan pipa dan beberpa peralatan lain.

Kita tahu bahwa operasi dari  bangunan lepas pantai ini sangat bergantung pada kerja  dari mesin utama dan kerja drai mesin bantu, efisiensi dari mesin ini akan berkurang fungsinya apabila  tidak dilengkapi  dengan  sistem perpipaan . sistem perpipaan ini  berguna untuk membawa  tenaga  dalam bentuk  uap air  keketel uap . Selain itu fungsi dari pipa ini adalah untuk  memindahkan  hasil kerja  dari pompa  – pompa ke tempat  – tempat yang memerlukan  baik dalam bentuk pengisapan  atau pengeluaran . kriteria – kriteria yangharus dipenuhi dalam pendesainan sebuah sistem  pipa pada struktur bangunan laut dan kapal adalah

  1. Pembagian  Golongan pipa
  2. Bahan dari pipa.
  3. Katup dan peralatan  ( Flens )
  4. Pressure Drop
  5. Perhitungan tebal pipa.
Pembagian Golongan Pipa

Dalam masalah perencanaan  dan juga tentang konstruksi  sistem pipa pada struktur bangunan laut dan kapal .Maka penggolongan jenis pipa yang digunakan  dalam design pipa adalah dapat dibagi menjadi 2 golongan  ,yaitu:

1.Golongan

Yang termasuk dalam  dalam pipa golongan 1 adlah semua jenis pipa yang  memiliki tekanan dan temperatur yang bermacam – macam , tergantung pada kerjanya , yaitu :

  • Uap air dan udara diatas 150 psi atau diatas 370 ° F.
  • Air diatas 150 psi atau diatas 200 °F.
  • Minyak diatas 150 psi atau diatas 150 ° F.
  • Serta gas dan cairan yang beracun pada semua tekanan dan temperatur.

2.    Golongan II

Yang termasuk dalam golongan 2 adalh semua jenis pipa , dengan tekanan kerja dan temperatur di bawah tekanankerja dan temperatur yang dicantumkan  dalam golongan I.

Bahan  Pipa 

Dalam pemilihan bahan yang paling cocok untuk sistem pipa  , yang harus diperhatikan adalah tentang ;

~  Kekuatan / Strength

~   Tahanan  Pipa terhadap Korosi.

Bahan yang biasanya dipakai  dalam design pipa adalah ;

  1. Seamless drawn steel pipe / pipa baja tanpa sambungan .

Dengan ciri – cirinya sebagai berikut ;

  1. Dipakai untuk pipa  tekan  pada sistem bahan bakar.
  2. Injeksi bahan bakar dari motor pembakaran dalam.
  3. Terbuat dari  bahan baja atau dari kuningan.
       2. Lap welded / electric resistance welded stell pipe.

Dengan ciri – cirinya  sebagai  berikut :

  1. Dipakai pada tekanan  kerja < 350 psi dan suhu < 450 ° F.
  2. Bahan  daripipa terbuat dari timah hitam  yang biasanya  pipa jenis ini di gunkan untuk  saluran suply air laut dan saluran pipa sistem bilga.

Katup dan peralatan ( Flens )

Katup dan peralatan kerja dari pipa  ini biasanya terebuat dari bahan – bahan  baja tempa , besi tuang , campuran  setengah baja ( semi Steel ) . Namun yang harus diperhatikan dari dalam pemilihan bahannnya adalah tentang  batas – batas dari tekanan dan temperatur.

Flens yang digunakan  pada sistem pipa , ada bermacam – macam. Selain itu juga harus mempertimbangkan tentang  bahan yang akan digunakan  , yaitu :

  1. Untuk pipa  baja dengan diameter nominal lebih besar dari 2 inchi harus dimuaikan  ke dalam  flens baja atau  dapat di sekrup  kedalam flens kemudian di las.
  2. Untuk pipa baja  dengan diameter nominal  lebih dari 2 inchi , harus dimuaikan  ke dalam flens baja .
  3. Flens dari besi tuang dapat digunakan dengan sistem  sambungan yang di sekrup  dan hanya boleh di pakai  didalam sistem  dimana penggunaanya  tidak dilarang.

Untuk pipa yang tidak terbuat dari baja / besi  harus di patri , tetapi diameter   harus lebih kecil  atau sama dengan  2 inchi  dapat di sekrup.

Pressure Drop

Ukuran dari sebuah saluran pipa biasanya berdasarkan pada keseimbangan antara pressure drop di satu pihak  dan biaya serta  berat di pihak lain.. Pressure drop  dalam sebuah pipa adalah  fungsi dari kecepatan berat jenis  dan kekentalan / viscositas  dari cairan  dan panjang  serta diameter pipa.

Pressure drop yang dipasang , disamping sebagai fungsi yang disebut  diatas tadi , juga berfungsi sebagai  sifat aliran / arus  termasuk jumlah dan jari – jari serta tingkat turbulensi. Didalam penggunaanya dilaut , dimana saluran pipa  biasanya pendek , bagian terbesar  dari jumlah pressure drop  dalam sebuah sistem akan terjadi didalam saluran keran

Perhitungan tebal dari  Pipa

Ketebalan dari pipa pada  struktur bangunan laut dan kapal , itu tergantung pada  cara kerja dari sistem tersebut . Biasanya  pipa tersebut  dibuat menurut ukuran standart , sehingga apabila jika  terjadi penyimpangan  dari ukuran standart , akan menambah  biaya extra.  Semua jenis pipa , harus direncanakan , tidak hanya untuk menahan  tekanan kerja bagian dalam , tetapi  juga untuk melindungi  terhadap kerusakan – kerusakan  dari luar karena   letak dari pipa ini adlah dari dalam struktur bangunan laut dan dari kapal itu sendiri.

Ukuran – ukuran dari pipa ini harus mengacu pada aturan dari American  Standart Association . Didalam keadaan yang khusus , ukuran – ukuran dan ketebalan  – ketebalan yang di peroleh , Tetapi sebaiknya ukuran – ukuran  standart  harus selalu  dipergunakan dalam pertimbangan  ekonomis dan juga kecepatan didalam pengiriman.

Design Code dan Standart

Pipa ini di desain  menurut aturan CODE desain dan standart sebagai berikut :

  1. ARI Rp 2A  ~  Recommended Practise  untuk perencanaaan  dan    konstruksi fixed offshore Platform.
  2. AISC  ~  Spesifikasi  untuk desain , fabrikasi  dan  ereksi struktur baja untuk bangunan.

Dalam  pendesainan pipa tersebut didasarkan pada penggunaaan 2 bagian pipa tersebut :

a. Section pertama

Panjang 150 ft yang di desain untuk memenuhi peletakkan pipa dengan diameter s/d 24 inchi  dengan menggunakan  mesin penarik 88 Kips.

b. Section kedua dan pertama  digunakan bersama – sama ,

dengan panjang 225 ft yang di desain untuk memenuhi peletakan pipa  dengan diameter  pipa 48 inchi  dengan menggunakan 2 mesin  yang di kombinasi dengan kapasitas 143 kips.

Masing – masing bagian dari pipa di desain untuk  kondisi operasi yang emergency / penting danmendadak. Bagiannya telah di desain  untuk menahan  tekanan air  sampai  kedalaman 200 ft.

Kondisi Lingkungan laut

Pada saat ini design pipa  yang terpenting , yang harus  di perhatikan  yaitu tentang masalah  data – data  lingkungan  di sekitarpipa tersebut akan di pasang.






PERKEMBANGAN PERPIPAAN OFFSHORE

29 03 2012

Dengan semakin berkembangnya industri gas dan minyak  sekarang ini , telah menghasilkan perkembangan subtansi pada proyek offshore ( Pengeboran minyak lepas pantai ) . Untuk menemukan dan memproduksi hidrokarbon. Dengan semakin berkembangnya  dan majunya teknologi yang ada maka peralatan yang berkaitan dengan offshorepun akan semakin  canggih dan semakin modern. Perkembangan pipa offshore , pertama kali berada di Gulf , Mexico.Telah  banyak  sistem perpipaan  yang telah dirancang di berbagai dunia . Dengan berbagai macam design yang beragam.  Negara – negara yang  mengikuti perkembangan  di bidang offshore  yaitu : amerika serikat , laut utara ,Gulf  Mexico, Mediterania Australia Asia  dan Amerika latin. Ada beberapa pipa yang dipasang pada kedalaman air ± 2.000 ft. Pipa ini mempunyai lebar  56 inci. Berbagai macam variasi peralatan yang telah dibuat  dan telah dirancang  ( mengikuti perkembagan dari offshore ) . Yaitu peralatan yang digunakan untuk untuk proses pemasangan / instalasi maupun peralatan yang digunakan untuk membuat  pipa itu sendiri. Dalam proses pembuatan pipa itu sendiri juga  harus menggunakan metode tertentu . Metode – metode yang digunakan adalah Conventional Lay Barge Method, Reel Barge Method, Various Pull dan tow  Methods.

Perancangan dari sistem perpipaan di Offshore ini juga tergantung pada kedalaman dari air laut itu sendiri. . Pada saat  kegiatan perancangan dan pemasangan pipa ini juga harus memperhatikan beberapa hal . Yaitu diantaranya adalah terjadinya Stress / tarikan dan bending., yang sering terjadi pada  permukaan  mesin yang tertanam pada dasar laut dan dipengaruhi oleh  gelombang  dan berbagai kondisi variasi dinamik. Setelah  pipa ini dipasang dan diletakkan  di dasar laut , akan mendapatkan beberapa resiko yang akan menimbulkan kerusakan akibat gelombang dan arus pada daerah tersebut.

Pada saat kegiatan / proses pendesainan sistem pipa ini , adalah yang terpenting harus diperhatikan adalah harus adanya gaya yang kecil dari pergerakan tanah disekitar pipa tersebut dan menjaganya dari berbagai kerusakan pada pipa itu sendiri. Spesifikasi pipa material  dan spesifikasi gravitasi adalah tersusun  sederhana sehingga pipa tersebut akan memiliki gaya hidrodinamika . Selain itu dalam proses pendesignan pipa ini juga harus memperhatikan analisa dari kondisi pipa yang berada  dibawah yaitu efek tekanan , expansi panas dan beban pada pipa itu sendiri. Jadi disini dapat kita sim pulkan tantang proses pendesignan pipa ini harus memperhatikan berbagai factor yaitu :

Gaya yang terjadi pada tanah disekitar  pipa (tanah mengalami pergerakan)

  • Beban  yang harus ditanggung pipa dalam  kegiatan operasi.
  • Efek Tekanan  yang terjadi disekitar pipa.
  • Terjadinya Expansi Panas disekitar pipa.
  • Temperatur dari pipa ini juga harus diperhatikan, dalam design pipa.

Dan dalam kegiatan pendesignan ini yang juga harus diperhatikan adalah  apabila pipa ini sudah terpasang dalam kedalaman air laut tertentu, Maka yang harus diperhatikan adalah terjadinya Buckling ( Tekuk ). Hal ini sangat penting karena jika pipa  Offshore ini akan mengalami bukling / tekuk maka jika tidak  segera ditanggulangi maka pipa – pipa ini akan mengalami Fatigue ( keretakan ).

Perkembangan Produksi Minyak dan Gas

Pipa – pipa dalam offshore untuk saat ini sudah amat berperan dalam dunia industri dan  dalam dunia usaha. Sehingga perkembangan dari pemanfaatan kekayaan alam yang adapun akan  semakin berkembang seiring dengan adanya teknologi kelautan yang semakin maju dan semakin canggihnya. Sistem perpipaan ini amat berperan dalam bidang Offshore , karena berkaitan dengan kegiatan produksi  yaitu proses pengeboran minyak gan gas bumi di dasr laut . dalam proses pengeboran  atau dalam kegiatan eksploitasinya, hidrokarbon ini pada dasarnya dibagi menjadi 4 fase , Yaitu  :

  1. Mengidentifikasi daerah yang mengandung minyak /hidrokarbon.
  2. Fase  eksploirasi.
  3. Fase pembangunan
  4. Fase produksi dan transportasi.

Fase pengidentifikasian daerah yang mengandung minyak ( Hidrokarbon )

Pada fase ini adalah berkaitan dengan struktur geologi daerah  yang  mengandung  potential hidrokarbon. Dan biasanya fase ini  didasarkan pada proses evaluasi dari bidang  geologi . Data – data yang mendukung dalam bidang geologi , harus mengacu pada data – data yang tepat  yaitu terutama  tentang data – data bidang geofisika  daqn daqta seismik pada daerah tersebut. Sehingga dapat diketahui bahwa daerah tersebut mengandung   hidrokarbon/minyak.

Fase  Eksploirasi

Langkah selanjutnya setelah ditemukan wilayah yang mengandung  hidrokarbon / minyak maka langkah selanjutnya  adalah operasi tentang eksploirasi  . Pertama – tama adalah diadakan survey  bidang geologi  dan geoteknik pada daerah yang akhirnya  pada daerah tersebut akan  ditemukan kandungan minyaknya. Setelah itu  akan segera dilakukan eksploirasi  / pengeboran  pada daerah yang mengandung hidrokarbon tersebut . Pada fase ini sangat berkaitan dengan berbagai  macam tipe Drilling rig. Dalam pemilihan drilling  Rig – nya  maka yang harus diperhatikan adalah tentang kedalaman airnya , dimana minyak dan gas  tersebut berada . Misalnya  : jack Up , digunakan pada kedalaman air yang tidak terlalu dalam . selain itu bangunan lain yang digunkan adalah adalah semi submersible , kapal pengebor minyak ( tanker ) dll.

Setelah proses pemasangan / instalansi pada bangunan lepas pantai / bangunan pengebor minyak , maka langkah selanjutnya adalah peletakan pipa didasar laut. Setelah itu  adalah pemasangan Blow – out ( alat  pengaman yang dipasang pada daerah yang yang sedikit sekali terjadi resiko  untuk terjadinya blow out, hal ini untuk menghindari terjadinya peledakan dan kebakaran di daerah sekitarnya.). karena kita tahu pada daerah sekitar pengeboran tersebut akan sangat rawan sekali terhadap kebakaran.

Fase pembangunan

Setelah semua informasi yang berkaitan tentang geologi dan geoteknik  pada daerah  yang mengandung  hidrokarbon/ minyak itu dianalisa . analisa tersebut berkaitan dengan  teknik dan nilai ekonomis  maka pada daerah yang mengandung minyaknya maka akan segera dilakukan pembangunan  dan proses produksi  dari minyak tersebut akan segera dilakukan/dimulai. Pada proses pembangunan, juga harus diperhatiakn tentang berbagai variasi  alternatif tentang berbagai  struktur bangunan laut yang akan digunakan untuk mengebor minyak tersebut. Berbagai alternatif  tersebut adalah struktur bangunan laut yang terpancang / fixed  untuk mengebor  dan untuk operasi produksi minyak. Berbagai fasilitas yang digunakan pada  proses produksi  adalah untuk permukaan dan dasar laut . Sedangkan untuk  sistem produksi di permukaan laut  adalah terdiri dari struktur yang terpancang / fixed structure  , yang dilengkapi dengan  peralatan pengeboran  dan peralata produksi . Kemudian untuk pemyaluran hasil dari proses produksi ini  yaitu berupa gas dan  minyak akan dialirkan  dari dasar laut sampai ke  atas decknya  yaitu melalui pipa –pipa.





PIGGING PADA PIPA BAWAH LAUT

28 03 2012

Teknologi pigging berkembang semakin maju dan dapat digunakan untuk tujuan khusus yang lebih spesifik. Pada kenyataannya, kebutuhan penggunaan pig tidak hanya untuk mencari penyok atau tekuk, tetapi juga lubang korosi dan retak, hingga dikembangkanlah Intelligent pig. Sistem pigging juga dapat digunakan untuk keperluan lain seperti pengecatan lubang internal atau untuk menyumbat saluran pipa sehingga pemeliharaan dapat dilaksanakan tanpa shutdown, dsb.

Pigging merupakan salah satu teknik cleaning operation bagian dalam dari pipeline system yang panjangnya sampai ratusan kilometer seperti ”cude oil pipeline” di Chevron, Medco dll. Sistem perpipaan ini dapat menjadi kotor , akibat berbagai hal, seperti adanya kerak (scale), korosi akibat adanya fluida korosif, aus dll. Cleaning & detecting bagian dalam pipa dengan sistem pigging ini dilakukan dengan memasukkan alat pig kedalam alat peluncur(pig launcher), pig akan meluncur disepanjang pipeline dan diterima oleh perlengkapan penerima (pig reciever). Selama pig ini meluncur di dalam pipa, maka pig akan melakukan inside cleaning pipeline, sekaligus melakukan pendeteksian kondisi pipa tersebut.

Berikut ini macam- macam pig dari berbagai tipe produksi, antara lain sebagai berikut :

  1. Tipe foam Pig
  2. Tipe Ball Pig
  3. Tipe Bidirectional Pig
  4. Tipe Scrapper Pig
  5. Tipe Brush Pig
  6. Tipe Intelijent Pig

Fungsi pig dalam operasi adalah untuk separasi produk, memperbaiki efisiensi pipa, mendorong kotoran, menyalurkan inhibitor korosi, meter proving dan inspeksi. Bila pigging diperlukan selama operasi, maka pipa transmisi harus dirancang dengan trap permanen. Berikut beberapa penjelasan mengenai salah satu fungsi pigging selam operasi :

1. Pendorong Kondensat

Pada pipa transmisi gas diman cairan terkumpul dibawah pipa akan menurunkan masukan efisiensi, kondensat dapat didorong ke terminal setiap kesempatan dengan slug yang besar, menyebabkan problem di tempat pelanggan. Slug catcher yang prinsipnya sama dengan separator dipakai untuk menyerap fluktuasi, suatu hal yang normal untuk membatasi ukuran potensial dari slug kondensat dengan regular sphering (Ball-pig) catcher yang diperlukan.

2. Inhibitor Korosi

Pada sistem pengontrolan korosi dengan inhibitor, pig ini digunakan untuk menyalurkan inhibitor tersebut ke seluruh permukaan internal pipa agar merata terkena inhibitor dan dilakukan dengan slug inhibitor antara dua pig.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alfansuri, Solihin. 2007. “Perlindungan Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://sholihinalfansurisite.blogspot.com/2009/12/offshore-pipeline.html

Alkazraji, D. 2010. “A Quick Guide to Pipeline Engineering”. Malaysia : engineering expensive.

Maba. 2010. “Teknik Pemasangan Pipa di Dasar laut”. Jakarta : http://bu-energy.blogspot.com/2010/10/teknik-pemasangan-pipa-di-dasar-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2010/pipa-bawah-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2011/08/intelligent-pig.html

Soegiono. 2007. “Pipa Laut”. Surabaya : Airlangga Press

Pardadi, Janu. 2010. “Pipeline Inspection by Inteligent Pig”. Palembang : Grafika 2 kampus UGM Yogyakarta.





TEKNOLOGI PERLINDUNGAN PIPA BAWAH LAUT

28 03 2012

Banyak hal yang harus di lakukan oleh para engineer pipa bawah laut untuk memproteksi pipa bawah laut tersebut (pipeline protection) yang di akibatkan beberapa faktor antara lain: kapal- kapal yang tenggelam / karam, lego jangkar dan tarikan jangkar serta kejatuhan jangkar, kegiatan pengerukan, kegiatan perikanan oleh para nelayan, juga di sebabkan oleh scouring (perpindahan material di bawah air karena gelombang dan arus) juga bisa di sebabkan oleh tekanan langsung dari objek-objek padat.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal tersebut di atas, ada beberapa solusi yang harus di lakukan untuk melindungi pipa bawah laut atau memproteksi pipa bawah laut tersebut, antara lain:

1. Increase wall / concrete thickness.

Yaitu dengan cara melapisi pipeline tersebut dengan campuran beton, seperti terlihan pada gambar.1 dibawah ini, fungsi utama dari system ini adalah sebagai pemberat untuk stabilitas pipa di dasar laut. Disamping itu untuk membuat pipa tahan terhadap potential impact damage dari pukat kapal ikan, kejatuhan barang-barang dan sejenisnya.

2. Concrete armor cover.

Yaitu dengan cara melapisi pipeline atau melindungi pipeline tersebutdengan campuran beton, dengan cara seperti ini diharapkan pipeline didasar laut dapat terlindungi dari kejatuhan benda-benda seperti jangkar dan lain-lain.

3. Engineering backfill.

Dilakukan dengan penutupan beton, bahan-bahan alam, bahan urugan yang direkayasa untuk keperluan ini (engineered backfill material-graded rock). Pipeline di proteksi dengan cara ini agar pipeline terlindungi dari pukulan berulang karena aksi gelombang, dan pukulan jangkar yang dijatuhkan. Gambar dibawah ini menunjukkan gambar sebuah penutup pipa yang terbuat dari beton yang nantinya akan di pasang untuk menutupi pipeline yang di pasang didasar laut. Gambar dibawah juga menunjukkan penutupan pipa bawah laut menggunakan tumpukan material batu yang di jatuhkan langsung dari kapal barge.

4. Trenching.

Yaitu dengan cara membuat parit pipa di dasar laut, pada dasarnya ada dua cara yang di lakukan yaitu open cut method yaitu parit pipa di buat sebelum atau sesudah pemasangan pipa, dan no dig method (tanpa penggalian) dimana pipa melewati rintangan (obstacles) tanpa ada pekerjaan penggalian ataupun pengerukan. Cara lain adalah dengan membangun terowongan (tunnel)atau dibor lubang mendatar di bawah rintangan tersebut, yang bisa jauh di lepas pantai, dan kemudian pipa ditarik terowongan atau lubang tadi. Untuk melakukan pekerjaan ini bisa dilakukan pada semua jenis tanah kecuali gravel dan boulders (maksimal 20%,gravel), atau semua batuan (apabila tidak terlalu banyak pecahan batu). Untuk panjang 1500 meter dapat dibor lubang dengan diameter 20-24”, dan untuk panjang 1000 meter sampai dengan 40”. Ukuran lubang yang dibor biasanya sekitar 1,5x diameter pipa. Tidak diperlukan atau sedikit sekali lapisan coating pada pipa. Peralatan yang di gunakan antara lain: bajak (plough) atau semburan air (water jet), mechanical trenches, trailing suction hopper dredger, cutter suction dredger, grab dredger atau backhoe dredge, dan lain sebagainya.

5. Anchoring for stability.

Yaitu dengan cara mengaitkan pipeline dengan anchor (jangkar) di sekitar pipeline tersebut, hal ini dilakukan supaya pipeline lebih kuat dan tidak mudah goyang dan tertekuk. Juga dapat menjadikan stabilitas pipeline tersebut menjadi lebih besar.

Dari macam- macam teknologi dalam perlindungan pipa bawah laut diatas, pemakain teknologi perlindungan mana yang paling baik digunakan disesuaikan dengan kebutuhan masing- masing dan karakteristik dasar laut. Karena dalam setiap metode diatas mempunyai kelebihan dan kekurangan masing- masing bila ditinjau dari berbagai aspek, seperti waktu (design life time), biaya (cost), panjang jalur pipa (routing) dll. Oleh karena itu, kemampuan seorang perancang dalam menghitung dan memilih teknologi mana yang paling cocok digunakan dalam perlindungan pipa bawah laut sangat dibutuhkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Alfansuri, Solihin. 2007. “Perlindungan Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://sholihinalfansurisite.blogspot.com/2009/12/offshore-pipeline.html

Alkazraji, D. 2010. “A Quick Guide to Pipeline Engineering”. Malaysia : engineering expensive.

Maba. 2010. “Teknik Pemasangan Pipa di Dasar laut”. Jakarta : http://bu-energy.blogspot.com/2010/10/teknik-pemasangan-pipa-di-dasar-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2010/pipa-bawah-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2011/08/intelligent-pig.html

Soegiono. 2007. “Pipa Laut”. Surabaya : Airlangga Press

Pardadi, Janu. 2010. “Pipeline Inspection by Inteligent Pig”. Palembang : Grafika 2 kampus UGM Yogyakarta.





PEMILIHAN RUTE (JALUR) PIPA BAWAH LAUT

28 03 2012

Routing merupakan faktor penting ketika mendesain pipa bawah laut, ini akan menentukan daerah-daerah di mana pipa dapat dan tidak dapat dirouting. Idealnya, konsep seleksi rute pipa adalah dengan menggunakan rute terpendek sebagai garis lurus antara dua titik. Routing harus mempertimbangkan apakah itu di wilayah darat atau lepas pantai. Berikut ini merupakan kriteria yang harus diketahui dalam melakukan routing pipa:

1. Onshore

  • Area yang dilindungi (Taman Nasional, Hutan lindung, Tempat Sejarah)
  • Kondisi Geografi (daerah berbatu, jalur patahan, daerah erosi)
  • Area Penyeberangan (jalan, rel, sungai)
  • Area  penduduk
  • Lokasi instalasi di atas tanah

2. Offshore

  • Tempat platform lainya
  • Kecelakaan kapal
  • Subsea wellheads
  • Karakteristik permukaan bawah laut

Pertimbangan lain yang harus kita diperhatikan selain diatas ketika  memilih rute untuk pipa adalah pipa harus dihindarkan dari rute lalu lintas dengan kepadatan yang tinggi, saluran listrik dan jalur pipa lainnya.

Ketika melihat detil desain jaringan pipa lepas pantai, ada beberapa pertimbangan, khususnya: terhadap stabilitas pipa bawah laut, beban hidrodinamis  harus dinilai untuk memeriksa apakah pipa akan stabil di dasar laut di bawah beratnya sendiri dan tidak akan bergerak sebagai hasil dari gerakan arus dan gelombang, beban tersebut termasuk lift, drag dan kekuatan inersia

Selain hal yang disebutkan diatas, ada Hal – hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan rute yaitu:

  1. Bahaya di dasar laut seperti kerangka kapal karam, batu, karang, dan tumbuhan laut, gas – gas yang mungkin terdapat pada perairan dangkal, sarana atau fasilitas laut yang ada (seperti jaringan pipa, kepala sumur dan lain – lain), akses untuk tie-ins, kaki drilling rig, jangkar, dan pukat kapal ikan.
  2. Keadaan dasar laut meliputi : slopes, profil, sifat tanah dasar laut yang sukar, psir dan lempung yang bergelombang (tidak rata).
  3. Pengunaan lingkungan pantai, hambatan pada waktu pemasangan pola kapal – kapal lego jangkar dan toleransi untuk peletakan pipa.
  4. Dampak dari pemasangan pipa itu sendiri terhadap lingkungan sekitar tempat pemasangan pipa.

DAFTAR PUSTAKA

Alfansuri, Solihin. 2007. “Perlindungan Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://sholihinalfansurisite.blogspot.com/2009/12/offshore-pipeline.html

Alkazraji, D. 2010. “A Quick Guide to Pipeline Engineering”. Malaysia : engineering expensive.

Maba. 2010. “Teknik Pemasangan Pipa di Dasar laut”. Jakarta : http://bu-energy.blogspot.com/2010/10/teknik-pemasangan-pipa-di-dasar-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2010/pipa-bawah-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2011/08/intelligent-pig.html

Soegiono. 2007. “Pipa Laut”. Surabaya : Airlangga Press

Pardadi, Janu. 2010. “Pipeline Inspection by Inteligent Pig”. Palembang : Grafika 2 kampus UGM Yogyakarta.





METODE PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT

27 03 2012

Instalasi pipa laut dapat dilakukan dengan kapal pemasang yang khusus. Ada beberapa metode untuk memasang pipa laut, metode yang paling sering dipakai yaitu S-lay, J-lay dan reeling. Berdasarkan pada metode tersebut, pipa laut mengalami beban yang berbeda selama instalasi dari kapal pemasang. Beban-beban tersebut adalah tekanan hidrostatis, tarikan(tension) dan pembengkokan (buckling). Sebuah analisis instalasi dilakukan untuk mengestimasi gaya tarik minimum pada pipa untuk kurva radius yang sudah diberikan, untuk memastikan bahwa efek beban pada pipa ada dalam kriteria desain kekuatan.

Berikut ini merupakan metode atau cara dalam pemasangan pipa bawah laut yang selama ini dilakukan dalam dunia pipeline, anatara lain :

1. S-Lay

Perbedaan teknologi dan peralatan telah diadopsi untuk pemasangan pipa di lepas pantai. Salah satu metode untuk pemasangan pipa yaitu metode S-lay, disebut S-lay karena kurva pipa yang keluar dari kapal pemasang sampai seabed berbentuk seperti huruf S. Pipeline difabrikasi di atas kapal dengan satu, dua atau tiga joints. Membutuhkan stinger untuk mengontrol bending bagian atas dan tensioner untuk mengontrol bagian bawah. Laut yang lebih dalam membutuhkan stinger yang lebih panjang dan tensioner yang lebih kuat. S-lay laut dangkal hanya bisa dipakai sampai kedalaman sekitar 300m saja. Untuk yang lebih dalam lagi, DP S-lay bisa dipakai sampai kedalaman 700m. Kecepatan pasang sekitar 4 – 5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 60” OD (Allseas Solitair).

2. J-Lay

Dalam metode ini, kapal menggunakan sebuah menara sentral, biasanya dikonversi dari kapal pengeboran, untuk melakukan pengelasan pada posisi vertikal dan peluncuran pipa dari menara. Pipa dilepaskan dengan cara yang membentuk kelengkungan sagbending, menghindari overbending, seperti yang ditunjukkan gambar dibawah. Kesulitan terbesar dalam metode ini adalah untuk melakukan pengelasan vertikal, pengelasan dilakukan hanya oleh satu section jadi lebih lambat dari S-lay dan untuk mempercepat proses, teknik pengelasan yang lebih canggih seperti friction welding, electron beam welding atau laser welding digunakan. Pipa yang akan dipasang mempunyai sudut yang mendekati vertikal sehingga tidak butuh tensioner. Teknik ini sangat cocok untuk instalasi di laut dalam. Beda dengan S-lay, J-lay tidak membutuhkan stinger. Kecepatan pasang sekitar 1-1.5 km per hari. Ukuran pipa maksimum yang bisa diinstal adalah 32” OD (Saipem S-7000). Meskipun membawa keuntungan dibandingkan dengan metode S-lay untuk perairan dalam. J-Lay memiliki tingkat produksi yang relatif rendah karena terbatasnya jumlah work station. Metode J-Lay sangat cocok untuk perairan dalam dan tidak cocok untuk perairan dangkal.

3. Reel

Dalam metode ini umumnya pipa yang dinstall adalah pipa berukuran diameter kecil atau pipa yang fleksibel. Pada instalasi ini dibutuhkan vessel yang memiliki pipe reel dengan ukuran besar karena pipa tersebut digulung dalam reel ini. Jika pipa ini dinstall secara horizontal maka akan berbentuk S-Lay namun jika dinstall secara vertikal maka akan berbentuk J-Lay. Metode ini lebih murah jika dibandingkan dengan metode lain ditinjau dari sisi waktu dan biaya, namun terbatas untuk pipa dengan ukuran diameter kecil. Semua pipa dilas di darat dan digulung sampai ukurannya komplit atau sudah mencapai maksimum kapasitas reel-nya. Tidak semua coating bisa dipakai seperti concrete dan beberapa coating yang kaku. Tebalnya pipa ditentukan oleh kebutuhan minimum untuk menghindari ovalisation dan diameter reel atau carousel. Pipa juga menjadi sangat sensitif terhadap perubahan properti. Bisa dipakai pada kedalaman 100 sampai 1000 meter. Kecepatan pasang sekitar 14 km per hari. Yang perlu diperhatikan dalam teknik reel lay adalah ovalisation, residual stress, Bauschinger effect dan fatigue

4. Tow or Pull

Metode ini digunakan dengan cara menarik pipa yang sudah disiapkan di darat dan kemudian ditarik ke tempat instalasi dengan cara ditarik oleh tug boat. Ada 4 jenis tow berdasarkan posisi pipa terhadap dasar laut: bottom tow, off-bottom tow, controlled depth tow and surface tow. Selain bottom tow, diperlukan minimal dua buah kapal, satu di depan dan satu di belakang. Dalam controlled depth tow, kecepatan kapal harus disesuaikan dengan kedalaman pipa yang diinginkan pada saat towing. Dalam towing lay, semua fabrikasi dikerjakan di onshore termasuk pemasangan anode dan coating di sambungan. Menarik buat lapangan yang terletak tidak terlalu jauh dari pantai. Juga cocok untuk aplikasi PIP dan pipe bundle.

Adapun dalam metode pemasangan pipa bawah laut, kapal pemasang pipa merupakan hal yang tak kalah pentingnya, dikarenakan adanya berbagai metode yang digunakan sehingga mempengaruhi jenis kapal seperti apa yang akan digunakan dalam pemsangan metode atau cara dalam pemasangan pipa bawah laut. Jenis kapal yang berbeda digunakan untuk pemasangan pipa laut tergantung pada metode pemasangan dan karakteristik lingkungan operasi (kedalaman, cuaca, dan lain-lain), yaitu sebagai berikut :

1. Pipelay (S- lay/ J- lay) Submersible

Kapal ini mempunyai kemampuan yang baik terhadap cuaca apapun dan merupakan platform yang stabil untuk pemasangan pipa di laut yang memiliki 8 kondisi gaya Beaufort. Pipelay semisubmersibles dapat memasang pipa dengan diameter 6” sampai 40” dengan kedalaman laut 10 – 1500m. Kekurangannya yaitu biaya yang mahal dalam pengoperasiannya karena masih menggunakan jangkar untuk menjaga posisinya.

2. Pipelay Ship dan Pipelay Barge

Pipelay ships/barge memasang pipa dengan cara yang sama dengan pipelay semisubmersibles. Perbedaan yang mendasar adalah kapal ini hanya mempunyai satu lambung (monohull) sehingga kemampuan untuk menjaga kestabilan lebih rendah dari semisubmersibles. Barge yang datar mempunyai kemampuan menjaga kestabilan yang lebih buruk dari kapal dan hanya dapat digunakan dalam kondisi laut yang tenang. Pipelay ships mempunyai kemampuan yang hampir sama dengan pipelay semisubmersibles. Jangkauan yang luas untuk diameter pipa yang dipasang pada kedalaman laut 15m sampai lebih dari 1000m. Kelebihan pipelay ships yaitu biaya pengoperasian yang relatif lebih murah ketimbang dengan pipelay semisubmersibles apalagi ditambah dengan teknologi dynamic positioning system sehingga tidak memerlukan jangkar untuk menjaga posisinya.

3. Pipelay Reel ship

Metode dengan menggunakan gulungan digunakan untuk pipa yang berdiameter hingga 16”. Pipa dibuat di darat dan digulung ke drum yang lebar pada kapal. Selama proses penggulungan pipa mengalami deformasi plastis pada drum. Keuntungan utama dari metode ini adalah:

  • 1. Durasi pemasangan yang singkat.
  • 2. Minimal dalam penyebaran lepas pantai (tidak memerlukan jangkar).

4. Tow or Pull Vessels

Metode ini digunakan untuk pipa yang tidak terlalu panjang, biasanya kurang dari 4 km. Pipa dibuat di darat dan setelah selesai kemudian ditarik ke laut. Daya apung dari pipa diatur untuk mengontrol kedalaman pipa saat ditarik untuk dipasang. Keuntungannya yaitu biaya peralatan yang rendah karena pipa dibuat di darat sehingga waktu pemasangan menjadi sangat singkat.

Daftar Pustaka

Alfansuri, Solihin. 2007. “Perlindungan Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://sholihinalfansurisite.blogspot.com/2009/12/offshore-pipeline.html

Alkazraji, D. 2010. “A Quick Guide to Pipeline Engineering”. Malaysia : engineering expensive.

Maba. 2010. “Teknik Pemasangan Pipa di Dasar laut”. Jakarta : http://bu-energy.blogspot.com/2010/10/teknik-pemasangan-pipa-di-dasar-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2010/pipa-bawah-laut.html

Setiawan, P. Aditya. 2010. ”Pipa Bawah Laut”. Surabaya : http://putukebarongan.blogspot.com/2011/08/intelligent-pig.html

Soegiono. 2007. “Pipa Laut”. Surabaya : Airlangga Press

Pardadi, Janu. 2010. “Pipeline Inspection by Inteligent Pig”. Palembang : Grafika 2 kampus UGM Yogyakarta.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.